Hamil Berkat “Pil Tuntas”

“Pil Tuntas” bikin hamil? Apa tidak sebaliknya? Begini ceritanya: Saat itu kami adalah pasutri yang sudah tiga tahun menikah tapi belum dikaruniai momongan. Pernah hamil sih, tapi keguguran itupun sewaktu pernikahan kami sudah berlangsung selama 2 tahun. Sebenarnya kami merasa biasa saja dan berpikir memang Allah belum ngasih. Tapi keluarga dan lingkungan kurang mendukung. Selalu saja pertanyaan tentang anak yang dilontarkan. Akhirnya nyerah deh, kami periksa ke dokter.

Saya diberi vitamin2 biar subur dan suami yang ternyata benihnya tidak memenuhi syarat juga diberi obat-obatan yang diminum maupun disuntikkan. Setelah sekian lama menjalani “treatment”, benih suami diperiksa ulang dan keadaannnya sudah baik/normal. Setelah kami rasa cukup usaha kami itu, kami kemudian “istirahat” tidak ke dokter kandungan lagi. Kami hanya berdoa dan berdoa hingga pikiran pun jadi tenang (di kemudian hari kami menyadari “pikiran tenang” ini juga diperlukan agar bisa punya anak .

Nah, suatu saat haid saya sangat tidak lancar padahal sudah hari ke 3, hanya bercak-bercak berwarna kecoklatan. Perlu diketahui bahwa sejak haid pertama kira-kira umur 15 tahun memang saya tidak bisa memprediksi kapan saya akan haid, siklusnya tidak beraturan (meski sekarang agak sedikit teratur). Oh ya, ada yang lupa! Selama “treatment” dulu itu saya juga dikuret untuk “melihat” jaringan dalam rahim dan ternyata ditemukan semacam “kista” yang tidak berbahaya. Dan tentu saja diberi obat oleh dokter. Kembali ke haid yang tidak lancar tadi, saya beli “pil tuntas” (sebelumnya sungguh saya belum pernah minum obat semacam ini). Saya minum satu sachet kalau tidak salah berisi 5 butir sesuai anjuran dan kalau tidak salah hanya sekali itu saja saya meminumnya. Kenapa? Karena selama ini saya “alergi” dengan obat-obatan yang dijual bebas apalagi obat pelancar datang bulan yang kadang2 disalahgunakan orang untuk “membatalkan” kehamilan padahal pembuahan sudah terjadi.

Ndhilalah, sebulan kemudian saya sakit, sakit yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Perut mual, kepala pusing, lemah, keringat dingin, berjalan beberapa ratus meter yang biasanya kuat saat itu hampir pingsan sampai harus berhenti duduk di “buk” pinggir jalan (sendirian nih, nggak ada yang nolong). Kami putuskan untuk pergi ke dokter kandungan, lho kenapa? Kami menyangka ada masalah dengan kandungan saya. Karena selama ini “sakit” yang biasanya saya derita berhubungan dengan kandungan, misalnya haid tidak teratur, kalau “mikir” haidnya berkepanjangan, pokoknya sekitar masalah hormon kewanitaan. Kata dokternya ada cairan di kandungan saya (dilihat pakai USG), trus dikasih obat ya trus kuminum obat itu (Duh, alangkah bodohnya aku ini, lha gejala2 itu kan gejala orang hamil. KAMU HAMIL TAHU! Ya nggak tahu, lha wong hamil pertama yang gugur dulu itu aku tidak begitu kok? Ya jelas saja gugur, kamu “sehat” tapi janinmu “sakit”. Apa kira2 seperti biji yang agak kopong ya, kalau ditanam bisa tumbuh tapi cuma sebentar? Ingat, waktu itu benih ayahnya masih belum bagus).
Setelah sekitar 2 minggu obatnya habis, saya belum sembuh juga. Kami kembali ke dokter itu. (Jelas belum sembuh, lha wong hamil disuruh sembuh. Pak dokter itu mungkin orang yang bijaksana saat pertama periksa tidak memberitahu dulu kalau saya hamil, dia ingin memastikan saya benar-benar hamil dengan melihat di layar USG pada pemeriksaan kali ini). Aku masih ingat sekali ucapannya “JADI INI”. (Apanya yang “jadi” Pak? Ibu hamil. ALHAMDULILLAH.

Ternyata suamiku tidak percaya kalau aku hamil. Dia menyuruhku untuk periksa urin. Aku tidak mau, lha wong dokter bilang aku hamil kok. Dia tetap saja tidak percaya dan terus memaksaku untuk periksa urin. Sampai akhirnya kandunganku mulai tampak, baru deh dia percaya. Bayi itu kami beri nama “Zaki” artinya “pertumbuhan yang baik” karena kami berharap dia tumbuh baik jasmani dan rohani meski telah hadir ke dunia karena benih kedua orangtuanya yang harus “ditreatment” dulu biar tumbuh baik  Sekarang dia sudah kelas 1 SMP dan punya 2 orang adik laki-laki dan perempuan.

Dari pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa “pil tuntas” (atau semacamnya) yang fungsinya membersihkan bagian dalam rahim membuat rahim kondusif untuk tempat tumbuh telur yang sudah dibuahi. Ada dua orang teman yang saya beritahu tips ini. Dua-duanya berhasil! Teman yang pertama, indung telurnya tinggal satu karena yang satunya diambil/dioperasi karena sakit. Sekarang anaknya sudah dua, laki-laki dan perempuan. Teman yang satu lagi, sudah punya anak satu trus ber_KB, setelah sekian tahun KB dilepas tapi dia tidak kunjung hamil. Dia ikuti tips “pil tuntas” selama 2 atau 3 kali siklus haid, sekarang sudah besar kandungannya dan anak pertamanya mungkin akan gagal jadi anak tunggal 

ALLAHU AKBAR. Dia menurunkan penyakit, Dia pula yang menurunkan obatnya. Mungkin saja “penyakit” belum punya anak yang sedang Anda alami, “obat”nya adalah “pil tuntas. Silakan mencoba. WALLAHU A’LAM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: